Kisah Si Kelingking

Hiduplah sepasang suami istri miskin pada zaman dahulu. Keduanya telah lama berumah tangga, namun belum juga mereka dikaruniai anak, walau seorang anak pun. Sangat ingin mereka mempunyai anak. Maka, mereka pun berdoa dan memohon agar keinginan mereka untuk mempunyai anak itu dapat terwujud. Bahkan, karena sangat inginnya mereka mempunyai anak, mereka menyatakan akan sangat berbahagia mempunyai anak meski tubuh anak mereka itu hanya sebesar kelingking.

Permohonan itu akhirnya dikabulkan.



Sang istri mengandung dan ketika waktu melahirkannya tiba, ia melahirkan seorang bayi lelaki yang sangat kecil tubuhnya, hanya sebesar kelingking orang. Suami istri itu sangat gembira mendapati kelahiran anak mereka dan mereka pun lantas memberi nama si Kelingking untuk anak lelaki mereka itu.

Waktu terus berlalu dan si Kelingking pun tumbuh dewasa. Tubuhnya tetap sebesar kelingking. Meski demikian, ia tampak sehat dan kuat. Tetap pula ia mendapat curahan kasih sayang kedua orangtuanya.

Syandan, negeri Jambi digemparkan oleh kedatangan hantu pemakan makhluk hidup. Nenek Gergasi nama hantu itu. Ia sangat banyaknagapoker88 menimbulkan korban karena ulahnya. Orang-orang lantas berniat pindah dari Jambi untuk menghindari jadi mangsa Nenek Gergasi. Termasuk mereka yang berniat pindah adalah kedua orangtua si Kelingking. Namun, si Kelingking menyatakan tetap akan tinggal dan bahkan berniat ingin menumpas kekejaman Nenek Gergasi.

“Jika engkau tetap tinggal, bisa jadi engkau akan dimangsa Nenek Gergasi itu, anakku,” kata Ayah si Kelingking mengingatkan.

“Ayah jangan khawatir,” sahut si Kelingking. “Tubuhku ini sangat kecil, sulit kiranya dilihatcasino online terpercaya hantu pemakan manusia itu. Doakan aku Ayah agar dapat menumpas hantu kejam itu. Nanti jika aku berhasil membunuhnya, aku akan beritahukan kepada Ayah, Emak, dan semua penduduk negeri Jambi.”

Meski tetap khawatir, Ayah dan Emak si Kelingking akhirnya meninggalkan anak mereka itu dan segera mengungsi bersama orang-orang lainnya. Si Kelingking lantas bersembunyi di dalam lubang tiang rumah dan menunggu kedatangan Nenek Gergasi.

Nenek Gergasi akhirnya datang. Betapa marahnya ia karena tidak mendapati seorang manusia atau juga hewan di tempat itu yang dapat dimangsanya. Padahal ia telah sangat lapar. Ia berteriak keras-keras meminta orang-orang untuk keluar dari persembunyiannya agar dapat selekasnya ia mangsa.

Mendadak Nenek Gergasi mendengar suara yang menggema yang memanggil namanya, “Hei Nenek Gergasi!”

Nenek Gergasi sangat terkejut mendengarrtv live slot suara yang memanggilnya. Pandangannya lalu mengedar mencari sosok yang memanggilnya. Namun, tidak dilihatnya siapa punjuga di tempat itu. Meski terkenal kejam dan gemar memangsa manusia serta hewan, Nenek Gergasi takut pula pada akhirnya mendapati kenyataan yang tengah dihadapinya itu. “Si … siapa engkau?” suara Nenek Gergasi terdengar bergetar. “Lekas eng … engkau keluar, biar dapat … dapat kumangsa!”

Suara pemanggil Nenek Gergasi yang tak lain suara si Kelingking kembali menggema diawal dengan suara tertawa terbahak-bahaknya. “Engkau ingin memangsaku? Haa … haa … haa …! Justru aku yang hendak memangsamu, hei Nenek Gergasi! Setelah semua manusia dan hewan di tempat ini kumangsa, masih juga aku merasakan lapar yang sangat. Lekas engkau ke sini, hei Nenek Gergasi, biar kumangsa engkau utuh-utuh! Biar rasa laparku ini berkurang!”

Seketika itu Nenek Gergasi lari tunggang langgang karena takut dimangsa makhluk yang tidak berwujud itu. Begitu takutnya menjadi mangsa makhluk yang dianggapnya sangat menyeramkan itu, Nenek Gergasi berlari tak tentu arah hingga akhirnya terjerumus ke dalam jurang. Seketika itu Nenek Gergasi menemui kematiannya setelah terjatuh di dasar jurang.

Dari dalam lubang tiang rumah persembunyiannya, si Kelingking mendengar jika Nenek Gergasi melarikan diri karena takut dengan gertakannya. Namun, yang tidak ia ketahui adalah makhluk kejam pemangsa manusia dan hewan itu sesungguhnya telah mati akibat terjatuh ke dalam jurang.

Kepergian Nenek Gergasi diketahui orang¬orang. Mereka pun berbondong-bondong kembali ke desa masing-masing. Mereka pun bergembira dan kagum dengan si Kelingking yang mampu mengusir makhluk jahat pemakan manusia tersebut.

Berita terusirnya Nenek Gergasi akhirnya didengar Sang Raja yang kemudian berkenan memanggil si Kelingking untukdatang menghadap.

Tanya Sang Raja, “Benarkah engkau yang berhasil mengusir Nenek Gergasi?”

“Benar, Paduka Yang Mulia,” jawab si Kelingking.

“Sanggupkah engkau tidak hanya mengusir melainkan melenyapkan Nenek Gergasi yang kejam itu?”

“Saya sanggup, Paduka Yang Mulia”

“Jika engkau sanggup melaksanakan tugasmu, engkau akan kuberikan hadiah yang sangat besar,”

kata Sang Raja. “Engkau akan kuangkat menjadi raja muda!”

Si Kelingking lantas mencari keberadaan Nenek Gergasi. Berhari-hari ia mencari hingga akhirnya ia mengetahui jika makhlukjahat pemakan manusia dan hewan itu telah menemui kematiannya di dasar jurang. Si Kelingking kemudian kembali menghadap Sang Raja. Dijelaskannya jika Nenek Gergasi telah mati dan ia meminta janji Sang Raja.

Sang Raja memenuhi janjinya. Ia mengangkat si Kelingking sebagai raja muda, meski tidak mempunyai prajurit, hulubalang, maupun juga permaisuri.

Sebagai raja muda, si Kelingking menghendaki dirinya mempunyai permaisuri. Ia menghendaki putri Sang Raja menjadi permaisurinya. Ayah dan Emaknya dimintanya untuk melamar putri Sang Raja. Meski takut, Ayah dan Emak si Kelingking akhirnya memberanikan diri datang menghadap Sang Raja dan mengajukan pinangannya kepada putri Sang Raja.

Sangat mengejutkan, sang putri menyatakan kesediaannya untuk diperistri si Kelingking. Meski Sang Raja memintanya untuk memikirkan baik¬baik, namun Sang Putri tetap bersikeras dengan keinginannya. “Meski Kelingking itu tubuhnya kecil, namun ia telah menunjukkan jasa besarnya kepada negeri kita. Ia berani berkurban demi kepentingan negeri dan juga orang banyak. Orang yang bersifat seperti itu adalah orang mulia hingga hamba bersedia diperistrinya.”

Sang Raja akhirnya menyatakan persetujuannya untuk menikahkan putrinya dengan si Kelingking. Pesta pernikahan pun dilangsungkan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam. Sang Raja lantas memberikan hadiah berupa sebidang tanah dan juga beberapa prajurit. Atas perintah Sang Raja, istana untuk si Kelingking pun didirikan.

Dalam kehidupan sehari-hari setelah berumah tangga, si Kelingking mempunyai kebiasaan aneh yang menjengkelkan istrinya. Dalam waktu-waktu tertentu si Kelingking pergi entah kemana. Yang Iebih mengherankan bagi istri si Kelingking, setelah kepergiannya itu datang seorang pemuda gagah yang tampan wajahnya ke istana si Kelingking. Kerap si pemuda tampan itu menanyakan keberadaan si Kelingking.

“Suamiku tengah bepergian,” begitu jawaban istri si Kelingking jika pemuda gagah itu bertanya perihal suaminya.

“Bolehkah aku menunggu kedatangannya di istanamu ini dan berdua denganmu?”

“Tidak!” tegas jawaban istri si Kelingking. “Aku tidak mengizinkan pemuda asing sepertimu ini berdua denganku. Selama suamiku tidak memberiku izin, aku sekali-kali tidak akan mengizinkanmu untuk menunggu di ternpat ini:”

Si pemuda tampak bersungut-sungut wajahnya. Ia kemudian akan segera berlalu dan tidak lama kemudian si Kelingking pun kembali.

Istri si Kelingking menjadi penasaran untuk mengetahui siapakah sesungguhnya pemuda gagah berwajah tampan itu. Mengapa pula si pemuda tampan itu hanya muncul ketika suaminya tengah bepergian? Lantas, kemana pula suaminya pergi? Berbagai pertanyaan bergejolak di benak istri si Kelingking. Ia pun memutuskan untuk mengikuti kemana suaminya pergi secara diam-diam.

Pada suatu hari si Kelingking kembali berpamitan hendak pergi. Istri si Kelingking lantas mengikutinya secara sembunyi-sembunyi. Si Kelingking rupanya menuju sungai yang tidak jauh dari istananya. Setibanya ia di pinggir sungai, si Kelingking membuka bajunya dan menyembunyikan di semak-semak yang berada di pinggir sungai. Si Kelingking lantas memasuki air sungai. Tak berapa lama kemudian dari sungai itu muncul si pemuda gagah berwajah tampan. Si pemuda tampan langsung menaiki kuda putihnya dan memacunya ke arah istana si Kelingking.

Istri si Kelingking akhirnya mengetahui, si pemuda gagah berwajah tampan itu tidak lain adalah jelmaan suaminya sendiri. Ia pun mencari cara agar suaminya tetap berwujud pemuda gagah berwajah tampan itu. Maka dengan berjalan mengendap-endap ia menghampiri tempat suaminya menyimpan pakaiannya. Diambilnya pakaian itu dan dibawanya pulang ke istana. Istri si Kelingking lantas membakar pakaian itu setibanya ia di istana.

Seperti biasanya, si pemuda gagah datang ke istana si Kelingking dan menanyakan di mana si Kelingking. Ia juga tetap berusaha menunggu kedatangan si Kelingking dan meminta berduaan dengan istri Kelingking. Seperti biasanya pula istri si Kelingking menolak permintaannya dan si pemuda akan segera meninggalkan istana si Kelingking. Setelah pakaiannya tidak dapat ia temukan, ia kembali lagi ke istana si Kelingking.

“Mengapa engkau kembali lagi?” tanya istri si Kelingking dengan berpura-pura tidak mengetahui kejadian yang dialami pemuda itu.

“Aku tidak dapat menemukan pakaian yag semula kusembunyikan di semak-semak di dekat sungai,” jawab si pemuda berwajah tampan itu. “Jika engkau memercayaiku, sesungguhnya aku ini suamimu, si Kelingking.”

“Suamiku seorang lelaki yang tubuhnya sangat kecil, hanya sebesar kelingkingku. Bukan lelaki gagah seperti dirimu ini,” kata istri si Kelingking dengan sikap pura-puranya.

Si pemuda gagah yang sesungguhnya jelmaan si Kelingking lantas menjelaskan siapa dirinya yang sesungguhnya. “Maafkan aku karena telah mempermainkanmu, istriku,” katanya mengakhiri penjelasannya.

“Aku juga meminta maaf kepadamu, karena pakaianmu itu telah kubakar.”

Suami istri itu akhirnya saling memaafkan. Sejak saat itu wujud si Kelingking tak berbeda dengan kebanyakan manusia biasa Iainnya. Meski demikian, ia tetap dipanggil dengan nama aslinya: si Kelingking.

Si Kelingking dan istrinya pun hidup berbahagia sebagai suami istri di istana mereka yang indah.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kakek Tua dan Cucunya

Tubuhku Pelunas Hutang Suamiku

Cerita Rakyat Sulawesi Selatan : Putri Tandampalik