Pohon Cemara dan Semak-Semak

 Setiap pagi dan sore, seorang nenek tua dan cucunya rajin menyirami pepohonan yang ada di taman. Salah satu pohon yang disayangi nenek tua dan cucunya adalah pohon cemara. Kian hari, pohon cemara kian tumbuh dengan subur.



“Nek, pohon cemara ini pasti bagus sekali setelah tumbuh. Dia akan memperindah tamannagapoker88 kita,” ucap si cucu.

Iya, sayang. Jadi, kamu harus lebih rajin merawat pohon-pohon ini, ya, agar taman kita terlihat rapi dan indah.” jawab si nenek.

Bertahun-tahun kemudian, pohon cemara itu sudah meninggi. Ia menghiasi rumah nenek tua itu. Nenek pun merasa sangat senang melihatnya. Dengan penuh kasih sayang, sang nenek merawat pohon cemara.

Selain pohon cemara, di taman juga tumbuh semak-semak. Namun, semak-semak tersebut sedikit mengganggu keindahan pohon-pohon yang tumbuh di sekelilingnya. Tanpa disiram pun, semak-semak tumbuh dengan sendirinya.

Makin hari, semak-semak makin menebal. Hampir di sekeliling pepohonanbandar casino terdapat semak tersebut. Pohon cemara pun merasa terganggu dengan kehadiran semak-semak itu.

“Hei. semak-semak. Kamu ini tumbuhan yang amat jelek, dan hanya mengganggu pertumbuhanku. Kamu tak ada gunanya sama sekali. Lihatlah aku, makin harirtv live slot aku tumbuh makin tinggi. Aku pun dapat memperindah taman ini,” celetuk pohon cemara sambil membanggakan dirinya.

Tetapi, semak-semak bersabar. Meskipun pohon cemara telah menjelek-jelekkan dirinya, dia tetap bersikap tenang.

“Terima kasih atas perkataanmu itu, pohon cemara yang indah,” jawab semak-semak dengan senyuman.

“Hahaha! Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi tumbuhan kesayangan Nenek? Sementara kamu hanya bisa menjadi pengganggu,” ejek si pohon cemara kembali.
Semak-semak pun menjawab dengan lembut, “Ya. Memang tumbuhan lain terlihat sangat baik. Kuakui kamu memang indah, pohon cemara. Tetapi, tunggulah saatnya. Kelak, seseorang akan menumbangkanmu ke bawah. Melihatmu tumbuh terlalu tinggi, ia akan menggunakan gergaji tajamnya kepadamu. Saat itu, kamu akan merasa dirimu seperti semak-semak. tidak lagi seperti pohon cemara.”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kakek Tua dan Cucunya

Tubuhku Pelunas Hutang Suamiku

Cerita Rakyat Sulawesi Selatan : Putri Tandampalik