Hadiah dari Pemuda Miskin
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemuda yang miskin. Namun, karena ia pemuda yang sangat jujur, ia pun disukai banyak orang. Tak hanya itu, ia juga sangat rajin bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Tak pernah sekalipun ia merasa lelah.
hingga pada suatu hari, si pemuda mendapat tawaran bekerja di kedainagapoker88 minum teh.
Apakah kau mau bekerja di tempatku? Aku sedang membutuhkan seseorang untuk membantuku di kedaiku,” ujar pemilik kedai.
“Benarkah? Tentu saja aku mau,” sahut si pemuda, kegirangan.
“Terima kasih,” kata pemilik kedai.
“Justru akulah yang harus berterima kasih, karena kau sudah membantuagen casinoku,” kata pemuda.
Si pemuda pun bekerja di kedai minum teh tersebut dengan penuh semangat. Ia sangat bersyukur, karena sekarang ia memiliki pekerjaan tetap. Tentunya, hal itu akan sangat membantunya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Namun, lama-kelamaan, si pemuda merasa tidak enak hati terhadap pemilik kedai. Ia tidak ingin terus merepotkan pemilik kedai. Ia pun memutuskan untuk pergi merantau ke kota.
“Mengapa kau pergi? Aku tidak merasa direpotkan olehmu. Aku justru senang karena kau telah membantuku,” ujar si pemilik kedai, berharap si pemuda tidak pergi.
“Terima kasih untuk semua bantuanmu. Tapi, maafkan aku. Aku harus pergi,” kata si pemuda. Ia lalu memberikan sebuah patung burung merak kepada pemilik kedai sebagai hadiah.
Dengan penuh haru, mereka berdua akhirnya berpisah. Namun pada suatu malam, pemilik kedai bermimpi bertemu dengan si pemuda.
“Tepukkan tanganmu sebanyak tiga kali di depan patung burung merak, dan lihatlahbocoran rtp slot apa yang terjadi. Jangan lupa, kau juga harus memperlakukannya dengan baik.” kata si pemuda dalam mimpinya.
Keesokan harinya, pemilik kedai melakukan pesan si pemuda dalam mimpinya. Ajaib! Tiba-tiba, patung burung merak itu hidup. Pemilik kedai pun terkejut, sekaligus merasa senang. Apalagi, burung merak itu ternyata sangat pandai menari. Kedai miliknya pun semakin banyak pengunjung. Ya! Banyak yang tertarik ingin melihat burung merak penari.


Komentar
Posting Komentar