Gagak ingin menjadi merpati
Suatu hari, gagak sedang terbang di dekat rumah penduduknagapoker88. Wajahnya terlihat lesu.
Sepertinya ia kelaparan. Seketika gagak ingat, bahwa petani memelihara merpati di rumahnya. Merpati-merpati di sana hidup makmur dan tidak pernah kekurangan makanan.
“Apa aku ke rumah petani saja? Tapi, pasti merpati tak mau menerimaku,” ucap gagak.
Namun, karena sudah sangat lapar, gagak memutuskan untuk tetap terbang ke rumah petani. Ia pun hinggap di sebuah pohon besar di dekat rumah petani. Ia berpikir, merpati akan menyisakan makanan dari petani.
Saat gagak sedang mengintai dari dahan pohon, petani keluar dan memberi makanan kepada merpati. Sekawanan merpati langsung saling berebutbocoran admin slot mengambil makanan.
“Jika seperti itu, tak akan ada makanan yang tersisa.” pikir gagak.
Tiba-tiba, gagak melihat kaleng cat berwarna putih.
“Jika aku mengubah buluku menjadi putih, mungkin aku bisa bergabung dengan merpati,” pikir gagak.
Gagak pun mencelupkan dirinya ke kaleng cat itu. saat keluar, gagak sudah berwarna putih. Ia pun memberanikan diri bergabung dengan merpati.
Benar saja, tidak ada merpati yang curiga. Gagak pun bisa makan sepuasnya. Setelah selesai makan, gagak mendekati salah satu merpati.
“Hai, nama kamu siapa?” tanya gagak.
Merpati itu merasa heran. Suara gagak terdengar serak, padahal merpati bersuara merdu.
“Kamu siapa? Semua merpati di sini tak ada yang memiliki suara serak sepertimu,” tanya merpati, curiga.
Barulah gagak menyadari kesalahannya. Ia tergagap, tak bisa menjawab.
“Kamu bukan kelompok kami! Pergi sana!” usir merpati kepada gagak.
Gagak yang diusir pun terbang pulang ke rumahnya. Tak apa bila merpati mengusirnya, toh perutnya sudah kenyang.
Namun, apa yang terjadi? Sesampainya di rumahagen casino, semua saudara gagak tak mengenali gagak. Itu karena tak ada gagak yang berwarna putih. Semua saudara gagak berwarna hitam.
“Siapa kau? Berani-beraninya masuk ke rumah kami!” seru salah satu saudara gagak.
“Aku gagak, saudaramu,” jawab gagak, sedih karena saudaranya tak mengenalinya.
Tapi, saudara-saudara gagak tak percaya.
“Kami tidak percaya. Lebih baik kamu pergi!” usir saudara-saudara gagak.
Betapa sedihnya gagak. Ah, seharusnya ia tak perlu menjadi merpati. Dengan begitu, saudara-saudaranya akan tetap mengenalinya. Bagaimanapun juga, keluarga adalah yang paling penting.


Komentar
Posting Komentar