Kisah Tan Talanai
Tan Talanai adalah seorang raja Jambi pada masa lampau.Ia berasal dari Rabu Menarah. Ia menjadi rajanagapoker88 menggantikan Raja Jambi sebelumnya, yakni Si Pahit Lidah, yang telah wafat.
Tan Talanai memerintah Kerajaan Jambi dengan adil dan bijaksana. Kesejahteraan rakyat pun meningkat dan segenap titah Tan Talanai dipatuhi segenap rakyatnya. Tan Talanai hidup berbahagia, mendapatkan penghormatan dan kemuliaan. Namun demikian hidup Tan Talanai serasa belum Iengkap karena ia belum dikaruniai seorang anak setelah lama berumah tangga. Ia menghendaki seorang anak yang akan dapat melanjutkan takhtanya.
Tan Talanai senantiasa berdoa agar dikaruniai anak. Doa dan permohonan Raja Jambi itu akhirnya dikabulkan Tuhan. Istrinya mengandung dan sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi lelaki. Tak terkirakan gembira dan bahagianya hati Tan Talanai. Namun, kegembiraan dan kebahagiaan itu kiranya tidak berlangsung lama. Hanya beberapa saat setelah bayi lelaki itu lahir, ahli nujum istana menjelaskan adanya bahaya dengan kelahiran bayi lelaki itu.
“Anak Paduka ini kelak akan membunuh Paduka!”
Tak terkirakan terkejutnya Tan Talanai mendengar ramalan ahli nujum istana. Ia sangat khawatir jika ramalanbocoran rtp slot itu mewujud menjadi kenyataan. Ia lantas memerintahkan Datuk Emping Besi untuk menghanyutkan anaknya itu di lautan.
Datuk Emping Besi memasukkan bayi lelaki itu ke dalam kotak kayu dan kemudian menghanyutkannya ke laut lepas sesuai perintah Tan Talanai.
Kotak berisi bayi itu dipermainkan ombak hingga berhari-hari kemudian kotak itu terdampar di tanah Siam. Kebetulan Ratu Siam tengah berada di pantai untuk mencari ikan. Ketika mendapati kotak yang terdampar itu ia lantas memerintahkan prajuritnya untuk mengambilnya. Betapa terperanjatnya Ratu Siam ketika membuka peti itu dan mendapati seorang bayi di dalamnya. Dari tanda-tanda yang terdapat pada peti, Ratu Siam mengetahui jika bayi lelaki itu berasal dari Kerajaan Jambi. Ratu Siam sangat yakin jika bayi lelaki itu adalah putra Raja Jambi.
Ratu Siam merawat bayi lelaki itu dengan penuh kasih sayang Iaksana bayi lelaki itu anak kandungnya sendiri. Bayi itu pun tumbuh menjadi anak yang sehat lagi kuat. Seiring bertambahnya sang waktu, anak itu pun berubah menjadi seorang pemuda yang gagah. Tampan pula wajahnya. Berulang- ulang ia menanyakan siapakah sesungguhnya ayahandanya karena sejak kecil ia senantiasa diledek sebagai anak yang tidak mempunyai ayah. Ratu Siam akhirnya menjelaskan siapa dirinya. “Menurutku engkau adalah putra Raja Jambi”
Si pemuda sangat murka ketika mendengar kisah hidupnya. Ia bahkan berjanji akan membunuh bapaknya yang telah tega membuangnya ketika ia masih bayi. Ia pun berniat menyerang kerajaan Jambi. Kekuatan Kerajaan Siam pun segera disusun dan disiagakan. Waktu penyerangan pun dicanangkan, setahun kemudian.
Ratu Siam lantas berkirim surat kepada Tan Talanai. Ia menjelaskan, anak Tan Talanai akan datang memimpin prajurit-prajurit Siam guna menyerang Kerajaan Jambi.
Tan Talanai sangat murka mendengar rencanabandar casino penyerangan Kerajaan Siam tersebut. Terlebih-Iebih pemimpin penyerangan itu adalah anak kandungnya sendiri. Tan Talanai lantas memerintahkan segenap prajuritnya untuk bersiaga.
Setahun kemudian kekuatan Kerajaan Siam pun datang ke Jambi. Peperangan yang sengit segera terjadi. Para prajurit Siam mengerahkan segenap kekuatannya untuk menyerang dan kekuatan Kerajaan Jambi mencoba menghadang serta memukul balik. Anak Tan Talanai mengamuk tak terkira, Iaksana hendak menumpahkan segenap kesaktiannya untuk kian menghancurkan. Tan Talanai pun tak kalah dahsyat sepak terjangnya untuk menghancurkan kekuatan Kerajaan Siam.
Bertemulah Tan Talanai dan anaknya sebagai musuh. Keduanya saling serang dengan sengit. Hingga beberapa saat, pertarungan keduanya terlihat seimbang karena keduanya sama-sama sakti. Keduanya saling serang dan saling tangkis. Hingga suatu ketika terbersit di benak Tan Talanai untuk mengalah agar tidak banyak lagi prajurit dari kedua belah pihak yang menjadi korban perang tersebut. Katanya kemudian, “Wahai anakku, jika engkau ingin mengalahkanku, ambilah sebuah batu. Pancunglah sekali batu itu dan gunakan untuk menikamku! Dengan cara itu aku akan menemui kematianku dan engkau akan keluar sebagai pemenang pertarungan kita ini”
Anak Tan Talanai terperanjat mendengar penuturan ayahandanya yang membukakan rahasia kesaktiannya agar dirinya dapat memenangkan pertarungan yang sangat sengit itu.
“Sebelum engkau membunuhku, perlu kiranya engkau mendengar penjelasanku dahulu,” kata Tan Talanai lagi. “Aku sungguh- sungguh telah melakukan kesalahan. Aku terlalu percaya pada ahli nujum istana ketika itu hingga membuangmu karena ketakutan dan kekhawatiranku bahwa aku akan mati di tanganmu! Aku serasa telah mendahului kehendakTuhan. Oleh karena itu aku memohon maaf padamu atas kesalahanku dan silakan engkau membunuhku jika ini memang telah menjadi kehendak Tuhan.”
Anak Tan Talanai langsung mendekati Tan Talanai. Bukan hendak menusukkan senjata pusakanya, melainkan memeluk kaki ayahandanya. Ia menangis dan memohon maaf atas kelancangan dan keberaniannya melawan ayahandanya itu. Ia terlalu menuruti kemarahan hatinya tanpa berpikir jernih.
Tan Talanai dan anaknya saling memaafkan. Bersamaan dengan bersatunya Tan Talanai dan anaknya itu maka perang antara Kerajaan Siam dan Kerajaan Jambi pun berakhir. Kedua kekuatan bahkan saling memaafkan meski sebelumnya saling serang untuk menggapai kemenangan.
Anak Tan Talanai kemudian mengajak kedua orangtuanya itu menuju Siam. Mereka hidup berbahagia bersama Ratu Siam. Ia dan kedua orangtuanya terus tinggal di Siam. Anak Tan Talanai bahkan akhirnya menjadi Raja Siam. Raja-raja Siam berikutnya adalah anak keturunannya. Maka, hingga kini orang-orang pun masih percaya jika Raja Siam itu sesungguhnya berasal dari Jambi. Sementara itu orang-orang pun percaya jika Raja Jambi itu berasal dari Turki, berawal dari Tan Talanai.


Komentar
Posting Komentar